Tragedy berdarah tahun 1965 telah lama berlalu, atau
tepatnya telah 52 tahun yg lalu berlalu.
Namun masih ada saja sekelompok orang yg terus-menerus dan berusaha
mengorek-ngorek luka bangsa tsb. Berbagai versi cerita mereka munculkan dan
bermacam cara mereka lakukan tapi dengan satu tujuan yaitu ingin memutar
balikan fakta peristiwa. PKI yg sudah jelas-jelas merupakan bagian dari pelaku
dalam peristiwa tsb berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yg terbunuh
dan juga berdasarkan kesaksian jenderal AH Nasution yg merupakan satu-satunya
saksi korban yg berhasil selamat serta kesaksian inspektur Polisi Sukiman yg
berada ditempat peristiwa pembunuhan, malah ingin diputar balikan seolah-olah
PKI adalah korban dalam peristiwa tsb. Berbagai versi cerita dikarang yg ingin
menunjukan seolah-olah PKI telah dijadikan kambing hitam dalam peristiwa tsb.
Tapi disini penulis tidak ingin membahas masalah tsb. Penulis ingin membahas 3
sebutan untuk peristiwa tahun 1965 oleh 3 tokoh yg berbeda dan tentu dengan alasan masing-masing sesuai persepsi mereka.
Ada 3 istilah yg beredar untuk penyebutan Tragedy berdarah
ditahun 1965 tsb. Bung Karno menyebut peristiwa tsb sebagai GESTOK, Jenderal AH
Nasution menyebutnya dengan istilah GESTAPU dan Jenderal Suharto menyebutnya
dengan istilah G30S/PKI.
1. GESTOK (Gerakan Satu Oktober)
Bung Karno menyebut peristiwa berdarah tsb dengan sebutan
GESTOK (Gerakan Satu Oktober). Bung Karno beralasan karena peristiwa tsb
terjadi pada tanggal 1 Oktober. Sejarah mencatat kalau Bung karno memang
dikenal suka membuat singkatan-singkatan dan menjadikannya sebagai sebuah kata
yg baru yg lebih progresif, seperti berdikari (Berdiri Diatas Kaki Sendiri),
Jasmerah (Jangan Sekali-sekali meninggalkan Sejarah), Nekolim (Neo
Kolonialisme) dll. Tidak ada yg salah dalam penyebutan GESTOK karena peristiwa
tsb memang terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari. Namun Bung Karno seolah
mengabaikan kalau pada tanggal yg sama justru gerakan tsb berhasil ditumpas dan
dilumpuhkan.
2. GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh)
Jenderal Nasution menyebut peristiwa berdarah tsn dengan
istilah GESTAPU (Gerakan September Tida Puluh). Jenderal Nasution beralasan
bahwa kejadian tsb adalah rentetan dari peristiwa yg terjadi dibulan September 1965
dan berakhir serta ditumpas pada tanggal 1 Oktober 1965. Jenderal Nasution
menolak penggunaan istilah GESTOK untuk penyebutan Trgadey berdarah di Lubang
Buaya. Jenderal Nasution beralasan istilah GESTOK seolah ingin menunjukan
Euforia Revolusi Oktober di Negara Komunis Uni Sovyet dan RRC. Jenderal
Nasution seolah ingin menunjukan bila bulan Oktober adalah bulan kemenangan
bangsa Indonesia atas orang-orang Komunis. Alasan Jenderal Nasution ini tidak
salah karena walau peristiwa berdarah terjadi pada tanggal 1 Oktober tapi pada
tanggal itu juga perlawanan terjadi dan sukses menumpas dan melumpuhkannya.
Tidaklah mungkin kita memperingati 2 peristiwa yg sama namun berbeda makna
dalam satu tanggal. Itu sebabnya kita mengingat tanggal 30 Spetember sebagai
hari berkabung nasional dan tanggal 1 Oktober sebagai hari kemenangan atas kaum
Komunis.
Ada hal yg menyakitkan dalam penyebutan GESTAPU oleh
Jenderal Nasution. Sekelompok orang dalam beberapa artikel malah berusaha
menggiring opini kita seolah-olah istilah GESTAPU merupakan rujukan dari
GESTAPO Nazi. Mereka mengarang cerita seolah istilah GESTAPU adalah bentuk lain
dari GESTAPO di Indonesia. Mereka member gambaran tentang pembantaian massal orang-orang
yg terindikasi terlibat PKI yg terjadi pasca tragedy di Lubang Buaya dengan
pembantaian yg dilakukan oleh GESTAPO di Eropa pada masa perang dunia ke II.
Ini terasa sangat menyakitkan karena istilah GESTAPU digunakan oleh Jenderal
Nasution yg notabene merupakan satu-satunya korban yg berhasil selamat dari
maut tragedy 1965.
3. G30S/PKI (Gerakan Tiga Puluh September/PKI)
Jenderal Suharto menyebut peristiwa berdarah tsb dengan
istilah G30S dengan tambahan kata PKI dibelakangnya. Suharto sengaja
menyematkan kata PKI dibelakang kata G30S dengan tujuan menimpakan semua
kesalahan pada PKI. Suharto ingin agar
PKI dianggap sebagai pelaku tunggal dalam peristiwa berdarah tsb. Ini adalah
bentuk perlindungan yg dilakukan Suharto kepada Bung Karno. Dengan menggunakan
istilah G30S/PKI, Suharto ingin agar rakyat Indonesia hanya melihat PKI sebagai
pelaku tunggal dalam peristiwa pembantaian para jenderal di Lubang Buaya.
Suharto tidak ingin rakyat Indonesia memiliki persepsi yg liar bila menggunakan
istilah yg lain. Istilah G30S mengambil istilah yg digunakan oleh Jenderal
Nasution yaitu GESTAPU. Penggunaan istilah G30S/PKI juga untuk meredakan
ketegangan antara Jenderal Nasution dengan Sukarno yg tetap menolak istilah
GESTOK yg digunakan Bung Karno.
Seandainya Suharto tidak mengambil sikap dan mengambil
sepenuhnya istilah GESTOK yg digunakan Bung Karno tentu akan mengundang tanda tanya
bagi Jenderal Nasution. Atau bila Suharto menggunakan istilah GESTAPU tentu
opini ataupun persepsi rakyat Indonesia akan berkembang secara liar dalam
mencari siapa dalang dibalik peristiwa tsb. Suharto sangat faham bila
keterlibatan pasukan Cakrabirawa dalam peristiwa berdarah tsb akan menjadi
pintu bagi kecurigaan rakyat Indonesia akan keterlibatan Bung Karno. Itulah
sebabnya Suharto sengaja menempatkan kata PKI dibelakang istilah G30S yg
digunakannya dengan tujuan agar persepsi rakyat Indonesia tidak menjadi liar
dalam mencari tahu siapa dalang dibalik peristiwa berdarah tsb. Apalagi Amelia
Yani, putrid dari Jenderal Ahmad Yani pada sebuah acara di stasiun TV swasta
pernah menyebut keanehan pada susunan Dewan Revolusi yg dipimpin oleh Letkol
Untung. Amelia Yani menyebut, sangatlah aneh dan janggal bila seseoang dengan
pangkat Brigjen bersedia merendahkan dirinya dan jabatannya kepada seseorang yg
level kepangkatannya 2 level dibawahnya kecuali ada seseorang yg memiliki
pengaruh yg sangat kuat yg membuat si Brigjen bersedia dan tunduk
melaksanakannya. Pada acara tsb juga Amelia Yani menggambarkan bagaimana posisi
Bung Karno saat itu, “Siapa yg berani pada Bung Karno waktu itu”, ujar Amelia
Yani untuk menggambarkan posisi Bung Karno waktu itu.
Dalam beberapa kebijakan juga dapat terlihat bagaimana Suharto berusaha menjaga nama baik Bung Karno agar tetap dihormati dan dihargai oleh rakyat Indonesia. Ini dapat terlihat dari pemberian gelar Pahlawan Proklamator bagi Bung Karno dan Bung Hatta pada tahun 1986. Suharto juga membangun Tugu Peringatan Proklamasi dengan membuatkan patung diri Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan Suharto menyematkan nama Bung Karno pada nama Bandara Internasional Indonesia yaitu Bandara Sukarno - Hatta. Dan yang terakhir, Suharto menyematkan gambar diri Bung Karno pada lembaran mata uang terbesar, Rp.100.000,-. Itu semua adalah bentuk penghormatan dan penghargaan yang dapat dilakukan oleh Suharto agar bangsa Indonesia tetap mengenang Bung karno secara baik. Suharto benar-benar menjalankan "Mikhul Dhuwur Mendhem Jero" yang merupakan budaya bangsa Indonesia. Namun, walau menjalankan Mikhul Dhuwur Mendhem Jero, Suharto juga tidak lupa untuk mengingatkan kepada kita semua tentang Becik Ketitik Olo Ketoro. Suharto ingin mengingatkan kepada kita bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak dapat selamanya dapat menjaga dan menutupi semuanya. Pada akhirnya akan ada masanya semua yang ditutupi itu akan terungkap juga.
Dalam beberapa kebijakan juga dapat terlihat bagaimana Suharto berusaha menjaga nama baik Bung Karno agar tetap dihormati dan dihargai oleh rakyat Indonesia. Ini dapat terlihat dari pemberian gelar Pahlawan Proklamator bagi Bung Karno dan Bung Hatta pada tahun 1986. Suharto juga membangun Tugu Peringatan Proklamasi dengan membuatkan patung diri Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan Suharto menyematkan nama Bung Karno pada nama Bandara Internasional Indonesia yaitu Bandara Sukarno - Hatta. Dan yang terakhir, Suharto menyematkan gambar diri Bung Karno pada lembaran mata uang terbesar, Rp.100.000,-. Itu semua adalah bentuk penghormatan dan penghargaan yang dapat dilakukan oleh Suharto agar bangsa Indonesia tetap mengenang Bung karno secara baik. Suharto benar-benar menjalankan "Mikhul Dhuwur Mendhem Jero" yang merupakan budaya bangsa Indonesia. Namun, walau menjalankan Mikhul Dhuwur Mendhem Jero, Suharto juga tidak lupa untuk mengingatkan kepada kita semua tentang Becik Ketitik Olo Ketoro. Suharto ingin mengingatkan kepada kita bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak dapat selamanya dapat menjaga dan menutupi semuanya. Pada akhirnya akan ada masanya semua yang ditutupi itu akan terungkap juga.
---000---
---000---